Pembunuh,,itu kita,,,kenapa kita tanya hatimu ketika sesuatu yang memuakkan didepan kalian,,maka kalian hadapan kan mata mu layaknya pisau,,ingin rasanya merobek jantungnya dan mengiris-iris wajahnya dan menikmati setetes darahnya agar dapat menyegarkan dahaga ini yang haus akan kebencian terhadap seseorang,,
ini adalah awal fase anda jadi pembunuh,,anda perlahan-lahan membuang rasionalisasi suatu pemikiran akan sebuah arti moral,,,lalu anda robek sedikit demi sedikit tentang sebuah perasaan akhirnya anda hujam kan 'pisau' itu persis diantara hati dan akal sang korban,,,'mati' 'hancur' 'buyar' dan 'hilang' apa yang korban mimpikan terkubur bersama kebencian yang kita bawa kepadanya,,,
Sang Pembunuh itu lah julukan untuk anda ketika harapan dan kehidupan seseorang anda renggut secara paksa tanpa belas kasih..KEJAM BERINGAS TAK BERMORAL TAK PUNYA PERASAAN itu lah julukan untuk kita,,lalu sang korban bagaimana dengan mereka,,apa julukannya?,,mereka adalah perspektif kebalikan dari anda mereka The Revolt,,,Sang Pemicu,,yang memicu garis akal pemikiran kita untuk di tarik lebih rendah ke bawah alam sadar kelemahan akan 'kebodohan' diri anda sehingga membuat anda skeptis terhadap diri sendiri dan selalu terbayang akan kehebatan dirinya,,
inilah fase kritis akal ketika anda tak bisa lagi membedakan segalanya,,yang masyarakat beradab katakan No Positive Thinking...Benar Sang Pembunuh dalam diri kita itu tak punya sisi apapun selain kelam dalam bayang-bayang permainan,,
Sang Pembunuh tetap lah Sang Pembunuh walapun kita membunuh atas nama Cinta,Agama,Kasih dan Prinsip...masyarakat yang memakai topeng peradaban selalu membingkai kata yang sebenarnya..memuji dengan Pelangi omong kosong tapi dalam hatinya tetap Meranum kata-kata bahwa anda tetap lah SANG PEMBUNUH